“Gerimis Menuju Masa
Depan”
oleh: Khairul Saleh
si Ruang Kosong
Sambil mendengarkan lantunan ayat suci saya melihat kemacetan ibu kota
dari atas bus yang sedang saya tumpangi menuju bandara Soekarno-Hatta. Entah
kenapa pikiran ini menerawang begitu jauh mulai dari kodisi saya masih kecil
sampai apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkan ambisi besar ku menaklukakan
masa depan. Bagaimana tidak, perjalanan ku menuju bandara kali ini ditemani senja
sore yang diselingi melodi kebisingan ibu kota yang membuatku nyaman untuk berekspresi
dalam khayalan. seketika seorang bapak tua dmenyadarkan ku dengan menepuk pundakku sambil
berkata “nak kenapa air matamu mengalir?”
aku hanya diam sambil menghapus air mata dipipiku.
aku hanya diam sambil menghapus air mata dipipiku.
Dengan malu-malu saya coba mengajak ngobrol bapak tua itu…
“Maaf bapak tujuan kemana?” “saya mau berkelana nak tidak tau harus
kemana, paling nanti akhirnya kekampung halaman juga di Surabaya (jawab bapak
tua itu sambil menundukkan kepala)” “kenapa air matamu tadi mengalir begitu
deras?”, dengan tersipu malu saya menjawab “saya tidak tau pak, mungkin karena
kepikiran orang tua dikampung yang sedang sakit, yang membuat kondisi hati ini
terpuruk dan rindu atas keduanya terus memporak-porandakan pikiranku”. sambil tersenyum bapak
tua itupun memberi wejangan berharga pada saya “Hari ini mungkin saja air mata
mengalir, tapi yakinkan diri bahwa kamu harus berjuang untuk senyum kedua malaikat
hidup mu dimasa depan”.
Senja yang diiringi melodi kebisingan membuat kami tak sadar telah tiba dibandara dan mengharuskan kami untuk berpisah…
Diatas pesawat kembali hati ini bercerita, Saya sadari masa-masa muda
adalah masa dimana idealisme tinggi sedang berkobar, cita-cita setinggi langit,
ambisi sukses menggebu-gebu untuk bisa menaklukkan masa depan. Begitu juga
dengan saya. Dan dengan keputusan pulang kampung demi orang tua dan kampung
halaman bukan jadi alasan beristrahat sejenak dalam perlayaran ini. Karena ini
adalah keputusan dari hati yang menjadi cambuk semangat maka saya tak perlu
merisaukan kegelisahan- kegelisahan yang dipahat oleh pikiran.
Dengan garis sekenario yang saya hadapi sekarang saya pun semakin paham
arti sebuah kehidupan. Ambisi kita untuk menaklukkan dunia memang sangat besar,
mungkin setinggi Himalaya seluas samudera namun ada masanya ambisi itu surut seketika
orang yang diperjuangkan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Karena terkadang
kita harus melewati gerimis masa depan untuk bisa mewujudkan ambisi itu. Ini bukan
soal hati yang lemah tapi takdir hidup siapa yang tau wallahu a’lam. Apapun ceritanya
saya semakin yakin pengorbanan demi orang tua sama dengan tiket menuju masa
depan.
Dan tak terasa saya pun sampai menitikkan air mata
mengetik tulisan ini. Seraya hati berkata seberapapun habisnya hariku dimakan
kesibukan-kesibukan untuk ambisi besarku, orang tua memang tetap menjadi tempat
tambat segala langkah kaki, selalu menjadi rumah tempat berpulang.
Sayapun sampai di Bandara Internasional Minangkabau…
Sedihhh :(
ReplyDeleteSemangat terus cok
Terharu dengar nya.. Semangat abg 😊😊
ReplyDeleteTerharu dengar nya.. Semangat abg 😊😊
ReplyDeleteTerharu bacanya.
ReplyDeleteTetap semangat pak
Menyentuh
ReplyDeleteMenentukan sedih
ReplyDeleteSukses itu di raih dgn pengorbanan, tiada kesuksesan tampa pengorbanan, senjata ampuh doa
Tetap semangat untuk meraih cita-cita mu demi membahagiakan kedua orang tua ipar ku
ReplyDelete