Friday, July 13, 2018

“Gerimis Menuju Masa Depan”


“Gerimis Menuju Masa Depan”

oleh: Khairul Saleh si Ruang Kosong
Sambil mendengarkan lantunan ayat suci saya melihat kemacetan ibu kota dari atas bus yang sedang saya tumpangi menuju bandara Soekarno-Hatta. Entah kenapa pikiran ini menerawang begitu jauh mulai dari kodisi saya masih kecil sampai apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkan ambisi besar ku menaklukakan masa depan. Bagaimana tidak, perjalanan ku menuju bandara kali ini ditemani senja sore yang diselingi melodi kebisingan ibu kota yang membuatku nyaman untuk berekspresi dalam khayalan. seketika seorang bapak tua dmenyadarkan ku dengan menepuk pundakku sambil berkata “nak kenapa air matamu mengalir?”
aku hanya diam sambil  menghapus air mata dipipiku.
Dengan malu-malu saya coba mengajak ngobrol bapak tua itu…
“Maaf bapak tujuan kemana?” “saya mau berkelana nak tidak tau harus kemana, paling nanti akhirnya kekampung halaman juga di Surabaya (jawab bapak tua itu sambil menundukkan kepala)” “kenapa air matamu tadi mengalir begitu deras?”, dengan tersipu malu saya menjawab “saya tidak tau pak, mungkin karena kepikiran orang tua dikampung yang sedang sakit, yang membuat kondisi hati ini terpuruk dan rindu atas keduanya terus memporak-porandakan pikiranku”. sambil tersenyum bapak tua itupun memberi wejangan berharga pada saya “Hari ini mungkin saja air mata mengalir, tapi yakinkan diri bahwa kamu harus berjuang untuk senyum kedua malaikat hidup mu dimasa depan”.
Senja yang diiringi melodi kebisingan  membuat kami tak sadar telah tiba dibandara dan mengharuskan kami untuk berpisah…
Diatas pesawat kembali hati ini bercerita, Saya sadari masa-masa muda adalah masa dimana idealisme tinggi sedang berkobar, cita-cita setinggi langit, ambisi sukses menggebu-gebu untuk bisa menaklukkan masa depan. Begitu juga dengan saya. Dan dengan keputusan pulang kampung demi orang tua dan kampung halaman bukan jadi alasan beristrahat sejenak dalam perlayaran ini. Karena ini adalah keputusan dari hati yang menjadi cambuk semangat maka saya tak perlu merisaukan kegelisahan- kegelisahan yang dipahat oleh pikiran.
Dengan garis sekenario yang saya hadapi sekarang saya pun semakin paham arti sebuah kehidupan. Ambisi kita untuk menaklukkan dunia memang sangat besar, mungkin setinggi Himalaya seluas samudera namun ada masanya ambisi itu surut seketika orang yang diperjuangkan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Karena terkadang kita harus melewati gerimis masa depan untuk bisa mewujudkan ambisi itu. Ini bukan soal hati yang lemah tapi takdir hidup siapa yang tau wallahu a’lam. Apapun ceritanya saya semakin yakin pengorbanan demi orang tua sama dengan tiket menuju masa depan.
Dan tak terasa saya pun sampai menitikkan air mata mengetik tulisan ini. Seraya hati berkata seberapapun habisnya hariku dimakan kesibukan-kesibukan untuk ambisi besarku, orang tua memang tetap menjadi tempat tambat segala langkah kaki, selalu menjadi rumah tempat berpulang.

Sayapun sampai di Bandara Internasional Minangkabau…




7 comments:

  1. Terharu dengar nya.. Semangat abg 😊😊

    ReplyDelete
  2. Terharu dengar nya.. Semangat abg 😊😊

    ReplyDelete
  3. Terharu bacanya.
    Tetap semangat pak

    ReplyDelete
  4. Menentukan sedih
    Sukses itu di raih dgn pengorbanan, tiada kesuksesan tampa pengorbanan, senjata ampuh doa

    ReplyDelete
  5. Tetap semangat untuk meraih cita-cita mu demi membahagiakan kedua orang tua ipar ku

    ReplyDelete