Thursday, September 20, 2018

“ Detik Putih Abu-Abu ’’


“ Detik Putih Abu-Abu ’’


Sore itu aku duduk melihat alam dengan fana merah jambunya sambil menikmati secangkir kopi hitam. Seperti hari biasanya pinggiran ibu kota selalu khas dengan melodi kendaraannya. Namun, sore ini sangat berbeda karena diiringi dengan rintik hujan yang menyempurnakan alur melodinya. Sehingga menyebabkan hati ini tanpa sadar berlayar ke detik cerita hidup dimasa lampau
.  Namun yang anehnya kenapa harus cerita putih abu-abu tempat hati ini berlabuh disore itu.

Bukannya tidak mau kembali kemasa itu, sebab saat ini hati ku sedang fokus memperbaiki diri untuk menjadi sosok yang lebih baik dari pada sosok dimasa lalu. Pertemuan kita sangat sederhana dimasa putih abu-abu. Berawal dari rasa kagum ku terhadap kepribadianmu. Matamu yang pertama kali berbicara, senyummu  menelusuk pada sukma itu semua terjadi hanya dalam tempo yang sangat singkat. Kalau tidak salah dimasa pengenalan kehidupan putih abu-abu pada adik kelas kita.

Pada saat itu fikiran ku kamu adalah pelengkap tulang rusuk dan penyempurna agamaku dimasa yang akan datang (hehehe maklum imajinasi putih abu-abu). Pertemuan kita memang tidak sedramatis film dilan ataupun sehebat kisah film ayat-ayat cinta. Pertemuan kita sangat sederhana. Meski begitu bagi ku sangat istimewa  karena aku yakin kamu takdirku dimasa depan. Sehingga aku sangat nyaman dan dengan mudahnya memulai perkenalan tersebut.

Hal indah yang kita bayang kan berlawanan ruang waktu yang ditakdirkan……

Segala harapan yang kita bangun berdua hancur dimakan kejamnya takdir, runtuh dalam sekejap. Aku tidak tahu ini salah siapa, mungkin salah-ku yang terlalu bangsat untuk mu gadis cantik seperti mu. Kamu mematikan logika-ku. Hampir pada saat itu aku ingin berteriak “ hey! Jangan pergi. Senyum mu telah menelusup pada sukma ku tatapun telah menghancurkan pertahanan cinta suciku. Namun itu hanya ku pendam karena hati ini sudah tau senyuman dan tatapan suci milikmu hanya sebuah formalitas dalam kehidupan ku”. Tapi harapan terus tumbuh dalam hatiku kau akan tetap jadi takdirku.

Dengan hati yang hancur aku pun memutuskan undur diri kala itu, bukan karena menyerah dengan takdir  namun karena aku sadar aku masih terlalu bangsat jadi calon iman-mu dimasa itu.  Hingga saat ini wangi putih abu-abu masih melekat dalam hati-ku, mungkin bertolak belakang dengan mu. Meski detik putih abu-abu milik kita diakhiri dengan kemunduran ku , kamu dan aku pernah jadi kita. Mudah-mudahan kamu membaca coretan ini walaupun sekarang kamu sudah menemukan calon iman mu yang jauh lebih baik dari kebangsatan ku.

Akhir dari coretan detik putih abu-abu ini aku mengambil sebuah kutipan dari tulisan ku sebelumnya “Boleh-boleh saja kamu atau aku berhalusinasi bahwa tulang rusuk kita berpasangan, namun tak menutup kemungkinan takdir juga bisa bercerita lain” (RuangKosong97).


Ttd
khairul saleh
(Ruang Kosong Yang Tak Bertuan)


5 comments: