“
Detik Putih Abu-Abu ’’
Sore
itu aku duduk melihat alam dengan fana merah jambunya sambil menikmati
secangkir kopi hitam. Seperti hari biasanya pinggiran ibu kota selalu khas
dengan melodi kendaraannya. Namun, sore ini sangat berbeda karena diiringi dengan
rintik hujan yang menyempurnakan alur melodinya. Sehingga menyebabkan hati ini
tanpa sadar berlayar ke detik cerita hidup dimasa lampau
. Namun yang anehnya kenapa harus cerita putih abu-abu tempat hati ini berlabuh disore itu.
. Namun yang anehnya kenapa harus cerita putih abu-abu tempat hati ini berlabuh disore itu.
Bukannya
tidak mau kembali kemasa itu, sebab saat ini hati ku sedang fokus memperbaiki
diri untuk menjadi sosok yang lebih baik dari pada sosok dimasa lalu. Pertemuan
kita sangat sederhana dimasa putih abu-abu. Berawal dari rasa kagum ku terhadap
kepribadianmu. Matamu yang pertama kali berbicara, senyummu menelusuk pada sukma itu semua terjadi hanya
dalam tempo yang sangat singkat. Kalau tidak salah dimasa pengenalan kehidupan
putih abu-abu pada adik kelas kita.
Pada
saat itu fikiran ku kamu adalah pelengkap tulang rusuk dan penyempurna agamaku
dimasa yang akan datang (hehehe maklum imajinasi putih abu-abu). Pertemuan kita
memang tidak sedramatis film dilan ataupun sehebat kisah film ayat-ayat cinta.
Pertemuan kita sangat sederhana. Meski begitu bagi ku sangat istimewa karena aku yakin kamu takdirku dimasa depan.
Sehingga aku sangat nyaman dan dengan mudahnya memulai perkenalan tersebut.
Hal
indah yang kita bayang kan berlawanan ruang waktu yang ditakdirkan……
Segala
harapan yang kita bangun berdua hancur dimakan kejamnya takdir, runtuh dalam
sekejap. Aku tidak tahu ini salah siapa, mungkin salah-ku yang terlalu bangsat
untuk mu gadis cantik seperti mu. Kamu mematikan logika-ku. Hampir pada saat
itu aku ingin berteriak “ hey! Jangan pergi. Senyum mu telah menelusup pada
sukma ku tatapun telah menghancurkan pertahanan cinta suciku. Namun itu hanya
ku pendam karena hati ini sudah tau senyuman dan tatapan suci milikmu hanya
sebuah formalitas dalam kehidupan ku”. Tapi harapan terus tumbuh dalam hatiku kau
akan tetap jadi takdirku.
Dengan
hati yang hancur aku pun memutuskan undur diri kala itu, bukan karena menyerah
dengan takdir namun karena aku sadar aku
masih terlalu bangsat jadi calon iman-mu dimasa itu. Hingga saat ini wangi putih abu-abu masih
melekat dalam hati-ku, mungkin bertolak belakang dengan mu. Meski detik putih
abu-abu milik kita diakhiri dengan kemunduran ku , kamu dan aku pernah jadi
kita. Mudah-mudahan kamu membaca coretan ini walaupun sekarang kamu sudah
menemukan calon iman mu yang jauh lebih baik dari kebangsatan ku.
Akhir dari coretan detik putih abu-abu ini aku mengambil
sebuah kutipan dari tulisan ku sebelumnya “Boleh-boleh saja kamu atau aku
berhalusinasi bahwa tulang rusuk kita berpasangan, namun tak menutup
kemungkinan takdir juga bisa bercerita lain” (RuangKosong97).
Ttd
khairul saleh
(Ruang Kosong Yang Tak Bertuan)

Wow amazing
ReplyDeletePerjalanan masih panjang. Percayalah kalo orang baik akan dijodohkan dengan yg baik pula. Jadi, jadilah pribadi yg baik supaya dapet yg baik juga.
ReplyDelete👍👍👍
ReplyDeleteJodoh tak kan kemana
ReplyDeleteJodoh tak kan kemana
ReplyDelete