Layu Sebelum Mekar
Oleh: Ruang Kosong (Khairul Saleh)
Sudah hampir 101 menit berlalu dari waktu isya’, namun pikiran ku masih terombang-ambing dalam emosi pergejolakan rasa. Pikiran ku saat ini diajak bernostalgia pada kisah masa lalu. Cerita yang dibangun dengan rasa yang menggebu-gebu tanpa sedikit berpikir tentang hal buruk yang akan terjadi pada alurnya. Dan kala itu hanya berpikir ingin berkembang bersama menuju surga NYA.
Banyak cita-cita yang kamu tawarkan padaku waktu itu hanya untuk membuat diriku percaya akan kesungguhan mu jadi makmum-ku. Janji manis yang kamu ucap dulu seakan membuatku terhipnotis oleh untaian diksi-diksi mu. Awalnya kamu begitu memukau, nampak terlihat menghadirkan sejuta harap, dan anggun menyentuh menghentakan hati ini. Tapi kini hanya kekecewaan yang terus memporak-porandakan sukma ku, karena aku tidak pernah bermain-main tentang rasa yang kutaruh untuk mu.
Kini bunga yang ku impikan dimasa depan layu sebelum berkembang (mekar)
Perjamuan cinta yang kita perjuangkan kini jadi serpihan hati-hati yang hancur, meradang gersang, dan cinta yang berseri sekarang sudah tidak wangi lagi. Entah siapa yang lalai diantara kita untuk merawat dan menyirami tamannya. Sekarang semua sirna, berubah menjadi bunga-bunga yang layu, cinta yang sucipun sayu berlalu. Itu semua karena kita terlalu sempit mendefinisikan makna cinta yang sesungguhnya.
Apakah cinta memang begitu? Saat dia mulai menyemai bibit harapan, hanya untuk layu sebelum berkecambah?
Kuharap tidak begitu, karena aku akan terus berencana dan berharap adalah ranahku sebagai hamba, sedang menetapkan adalah hak Sang Pencipta. Mudah-mudahan bunga ku dan bunga mu akan mekar pada waktu yang tepat dimasa depan.“Terimakasih telah jadi bagian alur hidup ku meskipun akhirnya kamu telah layu, sebelum kulihat indah mekarmu. Aku akan tetap menyukai mu sebagai bunga yang layu” (Ruang Kosong).

Untaian kata yang begitu indah👍
ReplyDeleteMantap bang
ReplyDelete:')
ReplyDelete:')
ReplyDelete