“ Konglomerat Di Tengah Penderitaan Orang Tua“
Oleh: khairul saleh si Ruang Kosong
Dengan lelah aku kembali
ke kost, melewati jalan ber aspal diiringi lantunan kebisingan kendaraan yang
lalu lalang. Sore ini aku sedikit merasakan kejanggalan dalam hati. Sambil menikmati
gerimis diujung senja, pikiran ku terus berkecamuk ditambah hati yang terus memberontak. Pikiran
ku terus dihantam banyak pertanyaan berbagai hal tentang gaya kehidupan.
Sampai ku tak sadar sudah sampai didepan gubuk tempat istrahat diperantauan.
Sampai ku tak sadar sudah sampai didepan gubuk tempat istrahat diperantauan.
Pergaulan anak muda dan
gaya hidup zaman sekarang bisa dibilang sudah terlalu berlebihan. Dengan
mudahnya semua dihalalkan. Pacaran menjadi kewajiban, pakaian mewah jadi keharusan,
nongkrong sambil minum-minuman jadi kepastian dan masih banyak hidup glamor yang
dilakukan demi mendapat gelar kekinian. Tanpa melihat kemampuan ekonomi orang
tua yang banting tulang dikampung halaman. Mungkin kita bangga ketika mendapat
banyak pujian dari orang lain. Namun kita tidak sadar bahwa banyak drama yang kita
mainkan untuk sekedar mendapatkan gelar itu. Jika kalian mampu sih sebenarnya
nggak masalah, tapi bagaimana dengan kita yang masih menikmati keringat orang
tua?
Seketika air mata ku mengalir
tak kalah deras dengan hujan diujung senja hari ini. Aku teringat malaikat ku
dikampung halaman.
Bagaiman
kabar mereka?
Apakah
mereka sudah pulang dari banting tulang ?
Atau mungkin mereka masih
bercucuran keringat ditengah ladang?
Ah.….…..aku tak bisa
menjawab. Sementara aku dirantau masih berpoya poya dengan gaya kehidupan.
Orang tua rela banting tulang serta melakukan pekerjaan
apa saja dari pagi hingga malam untuk menghidupi kebutuhan Kita diperantau an.
Bahkan banyak hinaan yang harus mereka terima tentang pekerjaan mereka. Tapi
mereka tetap berusaha kuat untuk menjalaninya, karena semua ini demi keluarga.
Mungkin mereka Lelah,letih dan sakit, tapi mereka selalu menyembunyikan rasa
itu agar anak-anaknya tidak terbebani. Namun kita masih sok-sok an dengan gaya
hidup diperantauan. kita layaknya konglomerat ditengah penderitaan kedua orang
tua dikampung halaman.
SADIS???
namun itulah realita yang sedang kita pertontonkan.
Diakhir
tulisan ini, mari sama-sama tanyakan kabar malaikat kita seraya sambil berdoa
untuk mereka.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Kayanya itu deh yg dibilang orang hypebeast Bng.. 😂😂
ReplyDeleteBayar keringat mereka dengan karya...
ReplyDeletesemoga orgtua kita selalu diberi kesehatan dan kita sbg anak dapat bermanfaat dan menjadi kebanggaan orgtua
ReplyDeleteKritik sosial berpadu pengalaman penulis
ReplyDelete