Thursday, December 6, 2018

“ Perjalanan Menuju Ibu Kota “


“ Perjalanan Menuju IbuKota “


oleh: khairul saleh si Ruang kosong

Aku masih saja terkagum pada setiap bunyi ketukan detik yang selalu setia menghiasi keheningan disetiap waktuku dan tak pernah lelah walaupun perlahan berputar mengitari waktu pada jam dinding itu. Namun malam ini aku tertuju pada foto di dinding kamarku. Foto itu tersenyum ikhlas bak pelangi yang hadir setelah hujan. Foto yang kumaksud adalah sosok kedua malaikat hidupku. Cerita dalam foto ini terjadi sebelum keberangkatan menuju ibu kota 2,5 tahun silam.


Yah.. memang aku hanya anak kampung, yang berasal dari desa kecil disudut ranah minang yang ingin menimba ilmu di ibukota. Keberangkatan menuju ibukota merupakan hal yang diluar rencana perjalanan hidup ku. Kira-kira 2,5 tahun lalu bertepatan pada tanggal 25 agustus 2016 aku berangkat dari kampung menuju ibukota. Aku berangkat dari rumah rabu malam menuju Bandara Internasional Minangkabau sekitar jam 23:00 wib dan sampai kota Padang pas menjelang waktu sholat subuh.

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara yang memakan waktu kurang lebih 5jam, hatiku sangat gelisah di bombardir banyak pertanyaan. Kucoba menenangkannya dengan memejamkan mata namun nihil hasilnya, sedangkan disampingku ayah, ibu, dan saudara laki-laki tertidur pulas. Oh iya perjalanan ku menuju bandara di temani mereka bertiga. Hatiku sangat gelisah malam itu, inginku membatalkan keberangkatan ini, namun hatiku terus memberontak aku harus tetap pergi melanjutkan perjuangan ini. (sambil kulihat wajah ikhlas kedua malaikat ku)

Pagi itu mentari sangat cerah, matahari tampak tersenyum lepas mungkin ia sedang bercanda gurau dengan awan. Bertolak belakang dengan kondisi hati ku bak kumpulan kapas yang dihembus angin, tapi saat itu aku berusaha untuk sok bahagia didepan malaikatku agar mereka tetap percaya dengan pilihanku ini. Tidak lama berselang pemberitahuan untuk check-in pun terdengar untuk pesawat yang akan ku tumpangi. Hatiku tambah hancur saat itu, ku tidak tau harus bagaimana. Dengan bismillah aku pamitan pada ayah,ibu, dan saudara laki-laki ku. Ibu ku menangis tak bersuara sambil memeluk ku, mukanya bercucuran air mata sedangkan ayah dan saudara laki-laki ku terlihat menunduk sambil menangis. (waktu itu aku masih sok tegar coba membendung air mata sambil berkata dalam hati "ini demi mimpi kita malaikat ku")

Tidak lama kemudian pesawat yang ku tumpangi membawa ku kabur tanpa rasa bersalah sedikit pun. Detik itu aku paling benci dengan besi besar ini karena telah membawaku jauh dari malaikatku. Didalam pesawat ku tak bisa sok tegar ataupun sok kuat seperti yang kulakukan tadi. Air mata terus mengalir tanpa henti sampai ibukota, sampai salah satu orang tua di samping ku heran. Didalam pesawat pikiran ku dihantui banyak pernyataan, ini pilihan yang salah, kenapa ini harus terjadi,  aku terlalu kejam gara-gara ku ibu dan ayahku begitu sedih. (Apakah karena anak bungsunya ini harus meninggalkan mereka menuju ibukota, yang mereka sendiri belum pernah kesana bahkan tidak tau letak nya dimana). namun saat itu hati masih lantang berteriak .......

"aku harus terus berjuang demi janjiku untukmu pada rabb-ku malaikatku"

bersambung.........

4 comments: