“
Perjalanan Menuju IbuKota “
oleh: khairul saleh si Ruang kosong
Aku
masih saja terkagum pada setiap bunyi ketukan detik yang selalu setia menghiasi keheningan disetiap waktuku dan tak pernah lelah walaupun perlahan berputar mengitari waktu
pada jam dinding itu. Namun malam ini aku tertuju pada foto di dinding kamarku.
Foto itu tersenyum ikhlas bak pelangi yang hadir setelah hujan. Foto yang
kumaksud adalah sosok kedua malaikat hidupku. Cerita dalam foto ini terjadi
sebelum keberangkatan menuju ibu kota 2,5 tahun silam.
Yah..
memang aku hanya anak kampung, yang berasal dari desa kecil disudut ranah
minang yang ingin menimba ilmu di ibukota. Keberangkatan menuju ibukota merupakan hal yang diluar rencana
perjalanan hidup ku. Kira-kira 2,5 tahun lalu bertepatan pada tanggal 25
agustus 2016 aku berangkat dari kampung menuju ibukota. Aku berangkat dari
rumah rabu malam menuju Bandara Internasional Minangkabau sekitar jam 23:00 wib dan sampai
kota Padang pas menjelang waktu sholat subuh.
Sepanjang
perjalanan dari rumah menuju bandara yang memakan waktu kurang lebih 5jam,
hatiku sangat gelisah di bombardir banyak pertanyaan. Kucoba menenangkannya dengan memejamkan mata namun nihil
hasilnya, sedangkan disampingku ayah, ibu, dan saudara laki-laki tertidur pulas. Oh iya
perjalanan ku menuju bandara di temani mereka bertiga. Hatiku sangat gelisah
malam itu, inginku membatalkan keberangkatan ini, namun hatiku terus
memberontak aku harus tetap pergi melanjutkan perjuangan ini. (sambil kulihat
wajah ikhlas kedua malaikat ku)
Pagi
itu mentari sangat cerah, matahari tampak tersenyum lepas mungkin ia sedang bercanda gurau dengan awan. Bertolak belakang dengan kondisi hati ku bak kumpulan kapas yang dihembus angin, tapi saat itu
aku berusaha untuk sok bahagia didepan malaikatku agar mereka tetap percaya dengan pilihanku ini. Tidak lama berselang pemberitahuan untuk check-in
pun terdengar untuk pesawat yang akan ku tumpangi. Hatiku tambah hancur saat
itu, ku tidak tau harus bagaimana. Dengan bismillah aku pamitan pada ayah,ibu,
dan saudara laki-laki ku. Ibu ku menangis tak bersuara sambil memeluk ku, mukanya
bercucuran air mata sedangkan ayah dan saudara laki-laki ku terlihat menunduk
sambil menangis. (waktu itu aku masih sok tegar coba membendung air mata sambil berkata dalam hati "ini demi mimpi kita malaikat ku")
Tidak
lama kemudian pesawat yang ku tumpangi membawa ku kabur tanpa rasa bersalah sedikit pun. Detik itu aku paling benci dengan besi besar ini karena telah membawaku jauh dari malaikatku. Didalam pesawat ku tak bisa sok tegar ataupun sok kuat seperti yang kulakukan tadi. Air mata terus mengalir tanpa
henti sampai ibukota, sampai salah satu orang tua di samping ku heran. Didalam pesawat pikiran ku dihantui banyak pernyataan, ini pilihan yang salah, kenapa ini harus terjadi, aku terlalu kejam gara-gara ku ibu dan ayahku begitu sedih. (Apakah karena anak bungsunya ini
harus meninggalkan mereka menuju ibukota, yang mereka sendiri belum pernah
kesana bahkan tidak tau letak nya dimana). namun saat itu hati masih lantang berteriak .......
"aku harus terus berjuang demi janjiku untukmu pada rabb-ku malaikatku"
bersambung.........
Dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang terus berdiam di rumahnya hanya khatam satu halaman saja
ReplyDelete👍
ReplyDeleteTekad yg membawamu ksana. Eakk
ReplyDelete🤗🤗
ReplyDelete